Skip navigation

Di antara tetesan hujan berkilau cahaya
indah mempesona warna para badari
Di antara jutaan warna tujuh dalam pelangi
jika tuk melukis diriku berapa warna yang perlu?

Dan untuk mu warna biru,melukiskan kedalaman hati
Dan kelabu awan itu bersama merah senja dalam senyummu

Warna merah muda, kata mereka warna orang yang becinta
Tetapi warna hitam, kata ku bagai bunga bersemi
Hijau mendamaikan , putih gembira, putih kesucian
Namun bagiku kini, semua telah menjadi kelabu

Jika langit jadi kanvasnya, laut pun menjadi catnya
Sampai kering tujuh samudera pun takkan terlukis

Yang ku lukis di kanvas langit, entah apa yang mereka dapati
Dan ku tahu hanya kamu, satu-satunya yang dapat mengerti

Biru bagai langit atau laut yang bertemu tak pernah bersatu
Merah bagaikan darah hitam bagaikan getirnya malam
Diantara semua warna jika kau pakai tuk melukisku
Satu saja pinta ku, jadikan aku warna yang baru

Semua warna di dunia tak sanggup melukiskan kisah tentang kita
Kalau itu dirimu, pastinya hanya kamu yang tahu
Diantara semua warna jika kau pakai tuk melukisku
Satu saja pinta ku, jadikan aku warna yang baru

Lagi malam ini pun
seiring dengan petikan gitar
angin membelai rambutku
Dan kupejamkan kedua mata

Orang-orang pun semua
berjalan lalu begitu saja
Tiada seorang pun juga
yang perduli untuk mendengarkan

Tapi hanya dirimu yang setia menunggu
tiap petikan dari gitarku
untuk segera kau bawa
agar dapat sampai ke hatinya

Karena hanya dia, satu-satunya saja
yang memahami melodi ini
Di manapun dia berada,
kau akan selalu dapat bertemu dia

Tiada pernah berubah
setiap malam di waktu yang sama
Di persimpangan jalan
depan stasiun ku selalu berdiri

Jika kiranya saja,
pada suatu ketika nanti
Nasib pun membawanya
ke tempat ini dan di waktu ini

Tetapi dirimnya yang sangat jauh disana
terhalangi oleh ruang waktu
Maka malam ini pun ku meminta bantuannya

Tuk selalu membawa melodi sanubari
ucapan dari hati ke hati
Janganlah kiranya pernah
hilang di pertengahan jalan

Jadi apa kiranya
yang masih dapat aku harapkan
Jika semua doa
Sudah terlanjur diucapkan

Di setiap batang lilin
menari-nari sang lidah api
Menunggu hingga padam
Atau terkena tiupan angin

Dan apa lagi yang dapat kuucapkan padamu
Jika kau memang mengerti isi hatiku

Memang sebaiknya ku lupakan saja
Karena semakin berharap semakin pedih
Tapi setiap kata yang terucap di bibir
Semoga hanya dirimu yang dapat mengerti
yang dapat mengerti

Jadi apa kiranya
yang masih dapat aku percaya
Jika memang masih ada
kekuatan tuk terus berharap

Lalu apa lagi yang dapat kau lakukan untuk ku
Dapatkah dirimu meraih diriku?

Sudah sebaiknya kau lupakan saja
Karena memang tidak ada jalan yang lain
Tapi doa ini jika saja terdengar
masih bolehkah aku berharap tuk berjumpa
untuk satu jam saja

Lalu apa lagi yang dapat ku lakukan
Doa macam apa yang dapat ku panjatkan
Waktu terus saja tiada sedikit bersabar
pengharapan dan kekuatan semakin memudar
Semakin menjadi keyakinan di hati
semakin rapuh dan mendalam luka ini
ku tak dapat lupakan

Kau sudah mengikat berpuluh-puluh utas
benang di sekujur tubuh ini milikmu
Pakailah diriku, sesuai kehendakmu
Ku tak punya lagi keinginan yang lain

Misalkan kurusak, kau bisa membuangku
Seperti ku telah membuang perasaan
Walaupun dunia pergi meninggalkanmu
Kau masih memiliki diriku ini…

Biarlah ku menari hanya di depanmu
Karena melodi mengalir di dalamku
Biarlah ku menari hanya di depanmu
Pakailah aku sekehendakmu…

Waktu pun berlalu waktu pun memudarkan
setiap detiknya melekangkan tubuhku
Hujan pun tiada kuasa panas pun tiada mampu
mesunyikan nyanyian hatiku

Namun sekarang dimanakah dirimu?
Sunyikah sudah nyanyian jiwaku?
Namun sekarang siapa yang menghiburmu?
Usangkah sudah tarianku ini?

Sekarang adakah nyanyian lain dihatimu?
Menarikah ia hanya di depanmu?

Ayo jiwaku nyanyikanlah nyanyian yang baru
Tidakkah suaramu sampai kepadanya?
Ayo jiwaku tarikanlah tarian yang baru
Tidakkah cintamu sampai kepadanya?

Bayangan yang di retina
terpantul dengan sungguh indahnya
Siapapun juga tiada mengira

Getar-getar dan dentuman
menggetar dan menggerakan sukma
Jangan kau kira tuk selamanya

Saatnya, tundukan kepala
pesta sudah akan segera berakhir

Kita semua menghibur rasa
Cita dan hasrat kan keindahan
Melipur lara hapus air mata
Sampai semua menuju ke keabadian

Ayo tutup ekspresi wajah
sembunyikan dalam kemeriahan nan kelam
Siapapun juga tiada mengira

Janganlah kau buka topengmu
Jangan rusak suasana sekarang

Kita semua cari bahagia
Sambil beruraikan air mata
Yang diungkapkan dengan gelak tawa
Sampai semua menuju ke keabadian

Ya, siapapun tiada mengira
Padahal mereka sendiri…

Tiada mengira, tak seorangpun
pesta pun usai namun musik dan tarian tetap

Kita semua menghibur rasa
Cita dan hasrat kan keindahan
Tetapi semuanya tipu belaka
Takkan terungkap meski di keabadian
dedicated to akhyar purnama siddiq

Entah disini Entah disitu
Entah begini Entah begitu
Entah yang ini Entah yang itu
Selalu banyak pilihan

Mauku ini Mauku itu
Pikirku ini pikirku itu
Kepala ini Hatiku itu
Sejuta alasan dapat dibuat
Untuk pembenaran

Jika mimpi-mimpi di setiap malam
selalu indah penuh bunga dan pesona
Tapi jika saat buka mata tiba
Menghatam tembok kenyataan dan terluka…

Jangan begini jangan begitu
Harus begini Harus begitu
Pilih yang ini Pilih yang itu
Kan ada banyak jalan
Selama kau masih terus berjalan

Persimpangan jalan ataupun tikungan
Tepi jurang atau jalan bebas hambatan
Semua hanya hasil dari pikiran
Pejamkan mata dan coba kau dengarkan…

Jika mimpi-mimpi di setiap malam
selalu indah penuh bunga dan pesona
Semua hanya hasil dari khayalan
Kembali ke arti dasar kehidupan!

Dengan aroma kopi di pagi hari
kau membangunkanku dari mimpi
Lima menit lagi sebentar lagi
Tapi waktu tak kompromi
Buru-buru kuberpakaian hari sudah siang
Walau agak kacau namun kau cerahkan hatiku

Ternyata diluar hujan sangat deras
Dan busku pun tak kunjung datang
Ku protes pada langit dan awan hitam
Namun gemuruh yang datang
Ku minta maaf tolong ku hanya bercanda
Demi Tuhan, kumohon, ku harus bergegas

Walau setelah hujan tak selalu
ada busur pelangi yang menghiasi angkasa
Walau hari tak seindah mimpi
Yah asalkan ku tetap yakin kau selalu
ada tuk gantikan pelangi
atau untuk membangunkanku
Membuatku memulai setiap hari
setidaknya indah pada awalnya

Seperti yang memang kukira,
hari ini agak melelahkan
Pekerjaan dan ceramah atasan
mewarnai hidupku
Walau pekerjaan segunung Semeru
Tapi kalau kuingat dirimu, ku bersemangat lagi

Ku pikir ku ingin membeli sesuatu
Tuk hadiah ultahmu
Tapi suasana dalam dompetku,
menambah suram cuaca
Dan kucoba meneleponmu tapi
apa daya ternyata pulsaku pun tewas

Seluruh dunia melawanku
Biar saja, asal kau tetap di sisiku
Walau awan mencuri mentari
Yah silahkan ku tak akan pernah
kehilangan cahaya matahariku
Yang bersinar di setiap pagi
Mengaawali setiap hariku
bermekaran selalu

Biarkanlah mengalir
angin yang bersemilir
seperti yang ku rasakan
karena dalam ingatan
Jika ini memang mimpi, jangan bangunkan aku

Karena sekarang, dapat kurasakan
Tanganmu melingkar di pundakku
Ku tak berani membuka mata
Karna ku tahu, kau akan menghilang

Lari-lari bagai kupu-kupu
Perasaan ini melayang-layang
padahal tak seberapa tinggi
Tercium segarnya rumput hijau

Lari-lari sampai tertangkap
Dekapkan ke jantung takkan kulepas
Takkan ku lepas
Karna ku tahu kau kan terbang lagi

Ku dengar suara napasmu
terdengar sangat hidup
Ku rasakan hangatmu
bagaikan matahari
Jika ku buka mata, janganlah kau pergi

Lari-lari bagaikan burung
Bersama mari mengejar awan
Nikmati setiap buaian angin yang lembut
Waktu takkan pernah kembali lagi

Mari sini berbaringlah
disampingku sambil rasakan
hangatnya mentari
di kulit ini
Waktu takkan pernah terulang lagi

Seumpama kau bisa kemanapun,
kemana kau pergi?
Seumpama sebuah mimpi terkabul,
apa yang kau minta?
Mau kemana lagi?
Just one more hour…

Seumpama kuberjumpa seorang peri,
ia pun bertanya
“Apa keinginanmu sekarang?”
“Aku tak tahu, aku hanya ingin begini…”
Tiada yang mustahil, Just one more hour
Biarkan ku terlelap, It’s only dream

I don’t need anything else
Asal kau tetap disini
I’ll go kemanapun kau pergi
Even if it’s only dream
Tak apa tak menjadi nyata
It will still just remain
Dalam setiap mimpi
Just one more hour
Biarkan ku bermimpi…

Segala rupa bunga berlomba tuk bermekaran
berusaha mengalahkan cinta diantara kita
Burung-burungpun terbang membummbung ke angkasa
mereka iri pada kita yang bebas oleh cinta

sekarang pegang tanganku kehendakmu kehendakku
bersatu padu dalam jiwa
yang akan menggerakan tangan kita berdua
tuk lukiskan kisah kita

Kuas bergerak oleh karena jiwa
kita berdua berwarnakan cinta
takkan pernah kan berakhir
takkan pernah kan mengering
cinta yang berlumuran pada satu jiwa…

Dan para bidadari bergesa tuk menambah warna
pada langit dengan pelangi yang terindah yang mereka punya
Bintang-bintangpun gugur berjatuhan dari tahtanya
merasa malu karena cinta kita cundangi mereka semua

Jangan pernah kau ragu “apakah ada yang lebih
lembut dari permata?”
Itu pertanyaanmu, “adakah yang lebih dingin
dari mentari?” jawabku

Pejamkan mata tutup telingamu
Jangan pikirkan dan jangan rasakan
Takkan pernah kan menghilang
Takkan pernah kan tertinggal
karena jiwa kita dan cinta kita telah menyatu

Cinta, Air mata ataupun apalah,
tawa, gundah apapun terserah
Jika kita berbagi apalah arti semuanya?

Ingin kutuliskan di setiap daun
dari semua pohon di dunia
Takkan pernah jadi layu
Takkan pernah berguguran
Cinta yang menafaskan kehidupan dunia…
Kuas bergerak oleh karena jiwa
kita berdua berwarnakan cinta
takkan pernah kan berakhir
takkan pernah kan mengering
cinta yang berlumuran pada satu jiwa kita…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.